Nyeruput


Acara TV saat ini kalau diperhatikan sudah terlalu banyak yang isinya hanya ‘bersenang-senang’, terlalu banyak ketiwa-ketiwi, Ibu2 diajak bertingkah seperti anak ABG, anak ABG diajak seperti tingkah orang dewasa yang kebarat-baratan, … Wuih !

Dan parahnya lagi, kok rasanya Pemerintah, banyak orang, dll …. seperti tidak/kurang peka, dengan mengatas namakan kebebasan dan Demokrasi membiarkan content public kita ditentukan oleh yg punya uang saja …:(

Malangnya bangsaku … :(

Pagi subuh ini, sambil menunggu bus antar kota yg terlambat yg membawa mertua dari kampung, sy berjalan-jalan keliling Depok.

Pasar Jajanan Kue Subuh Ramanda Depok

Pasar Jajanan Kue Subuh Ramanda Depok

(more…)

Sore ini saya cukup terperanjat !

Apa pasal ?

Sebenarnya Gurunya memberi saran agar si Kecil yang baru kelas 1 (satu) SD ini dilibatkan pada suatu perkumpulan untuk anak SD yang berbakat, atau diberi semacam buku harian sehingga dia dapat menuangkan bakatnya dibidang menulis dan story telling.

Tapi saya pikir ini kesempatan untuk mencoba lebih tinggi lagi.
Pagi sebelum saya berangkat ke kantor, saya menawarkan kepadanya untuk membua sebuah blog. Awalnya dia bingung, karena belum tahu apa itu blogs.
Tapi akhirnya saya buatkan juga di blogspot.com. Setelah saya buatkan satu sample dan mengajarkannya satu kali saja bagaimana membuat post baru dan mengeditnya, lalu saya tinggal ke kantor ketika masih dalam keadan on line di PC rumah.

Tapi apa yang terjadi ?
Anda bisa lihat, hasil nya di posting ke 2 dan ke 3 di http://hafiyyaa.blogspot.com. Posting tersebut sama sekali tidak ada saya di rumah, dan ini adalah pertama kali dia berkenalan dengan blogs !!

Kelihatannya saya agak terlambat dalam melihat bakatnya menulis …
Selamat berkarya ya Hafi ! Selamat menulis anakku sayang :)

Judul di atas adalah sepenggal perkataan yang sangat mengganggu saya pagi ini.

Pada saat si Bungsu yang kelas 1 SD diajarkan oleh Bunda nya, lalu si Bungsu yang masih kebingungan dengan cara/metode yang diajarkan oleh Guru nya sekolah itu lalu saya tawarkan cara lain yang lebih mudah (menurut saya) untuk digunakan. Saya cukup berani mengatakan bahwa cara yang akan saya tawarkan ke dia lebih baik dari yang dia baru dapat dari Gurunya karena bidang Matematika adalah bidang saya. Tetapi belum apa-apa dengan serta merta si Bungsu menolak karena di sekolah ‘harus‘ seperti itu caranya. Lalu Bundanya juga nyeletuk “Kelas satu memang baru sampai disitu !!!

Seketika itu pula pikiran saya memberontak …
Seharusnya dia bisa berfikir untuk menerima alternatif apapun (asalkan baik) yang akan memudahkan hidupnya (dalam hal ini adalah memudahkan cara berhitungnya)

Akhirnya saya berprasangka bahwa Gurunya kurang memberikan kebebasan, atau malah Gurunya sendiri juga takut untuk berfikir bebas dan terlalu kaku dengan ‘pakem’ pengajaran yang suatu saat akan obsolete juga. :(

Gawat euy … !

Apa maksud dari judul ini sebenarnya ?

Baiklah, mungkin perlu saya sampaikan dulu ‘asbabun nuzul’ nya (penyebab muncul tulisan ini) :)
Lama sekali saya tidak ‘ngeh’, dan ternyata di antara pembicaraan-pembicaraan dengan teman-teman, dengan sejawat atau bahkan sekedar bertegur sapa dengan orang di perjalanan, cukup banyak dijumpai pemikiran-pemikiran di masyarakat yang secara tidak sadar ternyata salah, atau terbalik.

Sebagai contoh :
Ada pepatah “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Menurut saya pepatah ini ada cacatnya, yaitu memiliki potensi membenarkan bahwa ’senang’ itu hanya terjadi setelah ’sakit/susah’.
Lalu saya pikir, kalau memang bisa bersenang-senang sekarang dan bersenang-senang kemudian, kenapa tidak ?!. Tidak ada hubungan yang significant antara “tingkat kesenangan dengan property yang sudah dimiliki sesorang”. Untuk senang/bahagia tidak harus menunggu punya materi. Karena bahagia itu adanya di hati.

Manusia Multi dimensi … wah apa pula ini ?

Saya tidak akan membahas pengertian apa itu dimensi, silahkan Anda baca sendiri di wikipedia Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Dimensi) ataupun yang berbahasa Inggris (http://en.wikipedia.org/wiki/Dimension)

Tapi mungkin untuk pendekatan yang dipilih untuk pemikiran yang akan saya sampaikan lebih kepada pendekatan ilmu matematika. Dimensi dalam bidang matematika erat terkait dengan konsep ruang atau space. Konsep ruang di matematika menggambarkan lebih luas tentang makna kata ‘ruang‘ atau ‘space‘ itu sendiri dibanding dengan yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Singkat cerita, mungkin dengan bahasa yang lebih sederhana (semoga), bahwa dimensi adalah kumpulan parameter dan tata nilai yang membentuk system yang bisa merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar atau beririsan dengan sistem lain yang paralel dengan formasi tertentu. Setiap dimensi memiliki satu bagian penting (bisa tunggal atau kesatuan) yang sangat mempengaruhi eksistensi dimensi tersebut. Katakanlah bagian penting itu dengan istilah inti dimensi.

Misalkan kita mengambil sebuah dimensi berupa sebuah kendaraan/mobil. Maka bisa dikatakan inti dimensi sebuah kendaraan adalah sistem mesin dan sistem kendali nya. Begitu sistem mesin tidak berfungsi maka dimensi mobil menjadi tidak layak, demikian pula bila sistem mesin berfungsi tetapi ternyata tidak dapat dikendalikan, maka dimensi kendaraan ini pun menjadi tidak layak.

Anda dapat mengambil contoh-contoh yang lain dengan konsep berfikir yang sama.

Rumusan pentingnya adalah sebagai berikut :

Bahwa setiap dimensi terdapat sebuah inti dimensi. Penguasaan manusia terhadap sebuah inti dimensi, akan mendatangkan manfaat bagi manusia tersebut.

Manusia adalah sebuah dimensi tersendiri, dan inti dimensi manusia sudah dinyatakan oleh ALLAH SWT bahwa “ada sebuah daging di dalam tubuh manusia yang mana jika daging itu baik maka baiklah seluruh diri manusia tersebut dan jika daging itu buruk maka buruklah seluruh diri manusia itu, itulah yang disebut Hati.”

Manusia diciptakan memiliki kesanggupan untuk masuk ke dalam berbagai dimensi baik secara bersamaan maupun secara parsial, itulah yang saya maksud dengan manusia multi dimensi. Karena itu jika manusia ingin bahagia caranya sederhana yaitu secepat mungkin mendapatkan inti dimensi yang dimasukinya lalu menguasainya dengan bijak. Sehingga manfaat atau keberkahan akan datang kepadanya.

Selamat berburu inti dimensi ! :)

Tabeek tuan …

lagi-lagi menyoal dimensi sistem pendidikan ’sekolah’ yang terbatas …

Sebelumnya saya mohon maaf kepada para Guru ku tercinta kalau luahan hati ini tidak berkenan.

Saya hanya menceritakan kejadian tadi pagi, ketika sedikit hiruk pikuk dirumah terjadi semasa ujian harian ke 2 semester ini.
Si kecil yang baru masuk kelas 1 SD yang biasa belajar bersama bundanya ternyata pagi in harus saya tangani sendiri karena kakaknya yang kelas 3 SD juga sedang dibimbingnya.

Tetapi apa yang terjadi …
Betapa sedih nya saya ketika setiap dia saya ajak untuk mencoba hal-hal baru tapi masih terkait diluar isi buku yang digunakan di sekolah ternyata si Kecil kerap menolak. Katanya “kata bu guru hanya sampai disini saja, yang itu gak pernah di ajarkan di sekolah … ” dst.. dst.

Waduh …

Ternyata baginya keluar dari pakem-pakem sekolah sudah dianggapnya sebagai hal yang salah !! Padahal itu hanya perluasan dan sedikiiiiit sekali dikembangkan.
Yang dicari adalah nilai ujian … padahal anakku baru kelas satu lho ini … walah !

Belenggu kreativitas dan eksplorasi anakku sudah mulai terkebiri rupanya :(
Oh ya ..???
(Semoga kesimpulan ini sepenuhnya benar dan tidak mengakar … amin !)

Nampaknya ada PR besar di depan kita.

Mungkinkah ?

Itu yang terbayang oleh saya dalam beberapa waktu belakangan ini.
Tapi rasanya mustahil ya kalau kita masih menggunakan sistem pendidikan nasional format (TK, SD, SMP, SMU) yang seperti sekarang ini.
Kok yakin begitu … ?
Coba saja bayangkan, masuk SD umur 6 tahun, lulusnya usia 12 tahun, masuk SMP lulusnya umur 15 tahun lalu baru lulus SMU usia 18 tahun …
Bisa apa lulusan SMU sekarang ?

Tapi kok zaman bapak-bapak pejuang dulu kok bisa ya usia muda sudah punya kiprah yang significant di skala nasional ?

Berarti idealnya paling tidak anak umur 15 tahun sudah selesai pendidikan formalnya lalu langsung mulai terjun bermasyarakat, sehingga di usia 20 tahun diharapkan sudah cukup matang paling tidak jauh lebih matang dari usia 20 tahun dari hasil pendidikan formal biasa saat ini

Bagaimana pendapat Anda ?

Nyeruput adalah bahasa jawa.
Entah mengapa saya suka dengan kata ini meskipun saya sendiri bukan orang jawa tulen alias campuran antara Ayah Jawa dan Ibu Minang :)

Nyeruput adalah cara orang meminum minuman yang masih panas dari gelas seperti setengah menyedot. Biasanya sambil menimbulkan bunyi …. ssrrrrrpppp … srrrrrpppp …. srruupppput

Sehabis menyeruput sering timbul sensasi yang sulit dibayangkan … sederhana tapi sering menjadi pemicu imaginativ positif.

Mari kita nyeruput bersama … :)