Pendidikan Anak


Siang itu terjadi peristiwa yang sangat sulit saya hindari tapi sekaligus sebagai sebuah tantangan. Tanggal 23 Agustus 2008, saya dipilih teman-teman orang tua di sekolah anak saya untuk menjadi Ketua Komite Sekolah. Waduh ! Innalillahi wa innailaihi rojiun ! (more…)

Sore ini saya cukup terperanjat !

Apa pasal ?

Sebenarnya Gurunya memberi saran agar si Kecil yang baru kelas 1 (satu) SD ini dilibatkan pada suatu perkumpulan untuk anak SD yang berbakat, atau diberi semacam buku harian sehingga dia dapat menuangkan bakatnya dibidang menulis dan story telling.

Tapi saya pikir ini kesempatan untuk mencoba lebih tinggi lagi.
Pagi sebelum saya berangkat ke kantor, saya menawarkan kepadanya untuk membua sebuah blog. Awalnya dia bingung, karena belum tahu apa itu blogs.
Tapi akhirnya saya buatkan juga di blogspot.com. Setelah saya buatkan satu sample dan mengajarkannya satu kali saja bagaimana membuat post baru dan mengeditnya, lalu saya tinggal ke kantor ketika masih dalam keadan on line di PC rumah.

Tapi apa yang terjadi ?
Anda bisa lihat, hasil nya di posting ke 2 dan ke 3 di http://hafiyyaa.blogspot.com. Posting tersebut sama sekali tidak ada saya di rumah, dan ini adalah pertama kali dia berkenalan dengan blogs !!

Kelihatannya saya agak terlambat dalam melihat bakatnya menulis …
Selamat berkarya ya Hafi ! Selamat menulis anakku sayang :)

Judul di atas adalah sepenggal perkataan yang sangat mengganggu saya pagi ini.

Pada saat si Bungsu yang kelas 1 SD diajarkan oleh Bunda nya, lalu si Bungsu yang masih kebingungan dengan cara/metode yang diajarkan oleh Guru nya sekolah itu lalu saya tawarkan cara lain yang lebih mudah (menurut saya) untuk digunakan. Saya cukup berani mengatakan bahwa cara yang akan saya tawarkan ke dia lebih baik dari yang dia baru dapat dari Gurunya karena bidang Matematika adalah bidang saya. Tetapi belum apa-apa dengan serta merta si Bungsu menolak karena di sekolah ‘harus‘ seperti itu caranya. Lalu Bundanya juga nyeletuk “Kelas satu memang baru sampai disitu !!!

Seketika itu pula pikiran saya memberontak …
Seharusnya dia bisa berfikir untuk menerima alternatif apapun (asalkan baik) yang akan memudahkan hidupnya (dalam hal ini adalah memudahkan cara berhitungnya)

Akhirnya saya berprasangka bahwa Gurunya kurang memberikan kebebasan, atau malah Gurunya sendiri juga takut untuk berfikir bebas dan terlalu kaku dengan ‘pakem’ pengajaran yang suatu saat akan obsolete juga. :(

Gawat euy … !

lagi-lagi menyoal dimensi sistem pendidikan ’sekolah’ yang terbatas …

Sebelumnya saya mohon maaf kepada para Guru ku tercinta kalau luahan hati ini tidak berkenan.

Saya hanya menceritakan kejadian tadi pagi, ketika sedikit hiruk pikuk dirumah terjadi semasa ujian harian ke 2 semester ini.
Si kecil yang baru masuk kelas 1 SD yang biasa belajar bersama bundanya ternyata pagi in harus saya tangani sendiri karena kakaknya yang kelas 3 SD juga sedang dibimbingnya.

Tetapi apa yang terjadi …
Betapa sedih nya saya ketika setiap dia saya ajak untuk mencoba hal-hal baru tapi masih terkait diluar isi buku yang digunakan di sekolah ternyata si Kecil kerap menolak. Katanya “kata bu guru hanya sampai disini saja, yang itu gak pernah di ajarkan di sekolah … ” dst.. dst.

Waduh …

Ternyata baginya keluar dari pakem-pakem sekolah sudah dianggapnya sebagai hal yang salah !! Padahal itu hanya perluasan dan sedikiiiiit sekali dikembangkan.
Yang dicari adalah nilai ujian … padahal anakku baru kelas satu lho ini … walah !

Belenggu kreativitas dan eksplorasi anakku sudah mulai terkebiri rupanya :(
Oh ya ..???
(Semoga kesimpulan ini sepenuhnya benar dan tidak mengakar … amin !)

Nampaknya ada PR besar di depan kita.